escapinglifepagebypage.blogspot.com, Gunungkidul- Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan potensi pelayanan kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) secara lebih maksimal. Hal itu dikarenakan keberadaan puskesmas lebih dekat ketimbang rumah sakit.

“Jangan hanya karena pilek, periksa kacamata terus ke rumah sakit. Nanti ada keluhan, rumah sakit penuh pasien,” kata Nila saat melakukan kunjungan kegiatan donor darah massal dan deklarasi 'Stop Buang Air Besar Sembarangan' di Taman Teknologi Pertanian (TTP) di kawasan wisata Embung Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Rabu, 26 Oktober 2016.

Salah satu upaya mengoptimalkan peran puskesmas, menurut Nila, adalah membuat sistem rujukan yang harus ditepati. Misalnya, kata dia, pasien di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sakit tidak harus langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sardjito. Tetapi, lanjut dia, secara bertahap dirujuk ke layanan kesehatan tipe C, kemudian tipe B, dan apabila tidak bisa ditangani baru ke tipe A. “Jadi lewat puskesmas dulu. Siapapun itu. Kalau perlu dibuat Rumah Sakit Pratama,” tuturnya.

Baca juga:
Ditanyai Soal TPF Munir, Jokowi Kabur
Jika Diputus Bersalah, Jessica Langsung Ajukan Banding

Menurut Nila, penguatan peran puskesmas dilakukan karena puskesmas menjadi pintu gerbang layanan kesehatan bagi masyarakat. Tidak semua lokasi domisili masyarakat dekat dengan rumah sakit. “Dokter puskesmas adalah dokter keluarga. Temukan sedini mungkin penyakit dan obati agar tetap sehat,” kata dia.

Dia menyebutkan, ada 155 penyakit yang bisa ditahan untuk tidak dirujuk ke rumah sakit, dan bisa ditangani oleh dokter puskesmas. Dia pun mempertanyakan dokter-dokter di puskesmas yang mengeluh karena beban kerjanya semakin berat apabila sistem rujukan tersebut diberlakukan. "Bukan beban. Mau menolong (pasien) atau tidak?” kata Nila.

Simak pula:
Temui Wapres JK, Ahok Dinasihati Jangan Banyak Omong
Ahok Cuti Kampanye, Magang Balai Kota Tidak Terima Gaji Lagi

Di Gunungkidul pada 2016, telah ada 10 puskesmas yang menjalani proses akreditasi. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya dua puskesmas. Tahun depan, ada 10 puskesmas yang antre menjalani akreditasi. Proses akreditasi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab biaya perjalanan dinas dari Dinas Kesehatan Gunungkidul membengkak dari jutaan rupiah menjadi Rp 1,9 miliar.

“Dalam satu pekan bisa 2 sampai 4 kali bolak-balik ke puskesmas yang didampingi untuk melengkapi dokumen,” kata Sekretaris Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Baca juga:
Jadi Kepala PPATK, Ini PR yang Harus Diselesaikan Kiagus
Menteri Retno Akui Belum Ditanya Jaksa Agung Data TPF Munir