escapinglifepagebypage.blogspot.com, Jakarta - Simon Mignolet sedang tak tenang hatinya. Dia misuh-misuh dan meminta keadilan kepada manajernya, Juergen Klopp. Penyebabnya, dia tidak lagi menjadi kiper nomor satu Liverpool.

Hal ini dipicu oleh keputusan Klopp, Selasa lalu, yang menetapkan kiper baru mereka, Loris Karius—yang dibeli dari Mainz dengan harga 4,5 juta pound—sebagai kiper nomor satu The Reds—julukan Liverpool. “Kini kami punya kiper nomor satu dan dia adalah Loris Karius. Begitulah yang terjadi," ujar Klopp.


Loris Karius.

Bukan tanpa sebab, apalagi bila semata karena sama-sama orang Jerman bila Klopp menunjuk Karius sebagai orang kepercayaannya dalam menjaga gawang The Reds.

Kiper yang didatangkan pada Mei lalu itu memang memikat hati si brewok. Dalam lima pertandingan hingga pekan ke-9, di kompetisi Liga Primer, lelaki berumur 23 tahun itu tampil gemilang. Bahkan dua kali di antaranya dia mencetak clean sheet alias tidak kebobolan.

Tentu saja Mignolet meradang. Kiper yang dibeli Brendan Rodgers—Manajer Liverpool terdahulu—dari Sunderland itu jatuh kecewa. Sebelum Karius datang, dia selalu menjadi penjaga gawang utama.

Tapi sepertinya Mignolet lupa. Saat Karius datang, Klopp menyebut tidak akan pernah ada kiper nomor satu di Anfield. Maksud Klopp ketika itu tak lain membuka kompetisi yang sehat di antara kiper baru dan kiper lama itu. Siapa yang bagus, terpilihlah dia menjadi nomor satu.

Menyadari bahwa posisinya sudah direbut, Mignolet—yang umurnya lima tahun lebih tua dari Karius—tak tinggal diam. “Saya ogah menjadi nomor dua. Saya ingin tetap bermain sebagai kiper nomor satu,” katanya.

Dengan tegas, seperti yang disampaikan pada koran di Inggris, dia menyatakan tak mau bila hanya duduk sebagai pemain cadangan.

“Saya baru berumur 28 tahun dan saya ingin terus bermain setiap pekan,” katanya. “Saya tidak akan menyerah. Maaf, itu bukan karakter saya.”

Persaingan kiper untuk menjadi nomor satu bukan sekali ini terjadi. Di Chelsea, dua kiper hebat, yakni Petr Cech dan Thibaut Courtois, pernah berebut menjadi yang terbaik. Tentu harus ada yang menjadi utama. Cech akhirnya tersingkir dan pergi ke Arsenal.

Begitu pun yang terjadi di tim nasional Spanyol, saat Iker Casillas dan David De Gea berebut menjadi nomor satu. Belakangan, Casillas yang dimakan usia akhirnya tersingkir.

Apakah ini pertanda Mignolet akan mengalami hal serupa? Bisa saja. Apalagi kiper asal Belgia itu kerap melakukan blunder. Tapi Mignolet sekali lagi menolak bila waktunya di Anfield sudah tak lama lagi.

“Bagi saya, ini sebuah tantangan. Saya mau bersaing, tapi harus fair. Semua penilaian harus berdasarkan penampilan kami di lapangan,” kata Mignolet, yang ikut bermain saat mengalahkan Tottenham Hotspur pada babak perdelapan final Piala Liga, Rabu dinihari lalu.

Tekad Mignolet ini tentu bikin Klopp senang. Setidaknya, bila kiper keduanya itu serius dalam mengejar impiannya, Klopp akan punya dua kiper hebat dalam timnya. Termasuk dalam mempersiapkan pertandingan melawan Crystal Palace, Sabtu malam.

FFT | TELEGRAPH | IRFAN