escapinglifepagebypage.blogspot.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau perkembangan kondisi krisis yang tengah dialami bank perkreditan terbesar di Jerman, Deutsche Bank. Salah satu kekhawatirannya adalah dampak yang mungkin mengimbas Indonesia.

"Kita ikuti terus bagaimana perkembangannya," ujar Deputi Dewan Komisioner Pengawas Bank II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Budi Armanto, di Shangrila Hotel, Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2016.

Deutsche Bank diketahui mengalami penurunan nilai perusahaan hingga 52 persen hanya dalam kurun waktu setahun. Saat ini, Deutsche Bank tengah berjuang menghadapi krisis dalam perusahaannya itu.

Masa depan Deutsche Bank baru akan diputuskan setelah hasil kuartal ketiganya dirilis Jumat besok. Apabila hasil kuartal III buruk, menurut para analis, hal tersebut dapat memicu terjadinya krisis keuangan global baru sekaligus penyuntikan dana atau bailout oleh pemerintah Kanselir Angela Merkel.

Baca: Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Membaik Sesuai Target

Sebelumnya, Deutsche Bank telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat menjatuhkan denda kepada bank itu sebesar 11,4 miliar pound sterling atau sekitar Rp 161,83 triliun karena menjual subprime mortgage yang menyebabkan krisis keuangan di Amerika Serikat pada 2008.

Dekan London Academy of Trading, Paddy Osborn, mengatakan investor-investor tahu cara menghadapi ini. Ketika situasi memburuk dan kondisi pasar menurun karena pengaruh psikologis, mereka akan meningkatkan volatilitas.

Senior Market Strategist Spread Co David Morrison menilai masih terdapat kekhawatiran yang serius atas tingginya kecepatan dan volume perdagangan.

Simak:Silang Pendapat di OPEC Picu Harga Minyak Merosot

Menurut Morrison, hal tersebut dapat menggoyahkan pasar pada saham individual, indeks, ataupun mata uang. "Deutsche Bank akan kesulitan dalam waktu yang lama," tuturnya.

GHOIDA RAHMAH|EXPRESS | ANGELINA ANJAR SAWITRI